Pemerintah Nggak Bisa Jalan Sendirian Trimedya: Ingatkan Lingkungan Kita, Prokes Dan Vaksinasi Sangat Penting

Anggota DPR Fraksi PDIP, Trimedya Panjaitan menyoroti fluktuasi atau naik turunnya kasus harian Covid-19, selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat hingga level 1-4 sejak 3 Juli 2021.

Menurutnya, penurunan kasus biasanya diikuti penurunan jumlah orang maupun jumlah spesimen yang dites Covid-19, baik dengan swab PCR, TCM, maupun antigen yang biasanya bertepatan pada hari Sabtu, Minggu dan hari libur nasional.

Jumlah pasien yang sembuh meningkat, namun kasus kematian juga terus meningkat.

Pada hari pertama pemberlakuan PPKM Darurat, tanggal 3 Juli 2021, tercatat kasus harian 27.913 orang. Selanjutnya, terjadi peningkatan penambahan kasus harian hingga puncaknya pada 15 Juli 2021, yang mencapai 56.757 kasus.

Setelah itu, kasus turun sampai angka 28.228 orang pada 26 Juli 2021. Namun, sehari kemudian  tepatnya pada 27 Juli 2021, angkanya naik lagi menjadi 45.203.

Pada hari yang sama, ada berita baik. Penambahan jumlah kasus sembuh, mencapai angka tertinggi selama pandemi, dengan angka 47.128.

Namun, kasus kematian juga mencapai angka tertinggi selama pandemi, sebanyak 2.069 orang.

Dalam situasi ini, Trimedya mengatakan, pemerintah sudah bekerja keras dalam menangani pandemi Covid-19, sejak pertama kali terdeteksi pada 2 Maret 2020.

Dengan penetapan bencana non-alam virus Corona (Covid-19) melalui Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020.

Setelah itu, diambil berbagai kebijakan dalam menangani pandemi ini. Yaitu melalui penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), kemudian Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

“Karena pandemi belum bisa dikendalikan dan ada tren meningkat, mulai 3 Juli 2021 sampai dengan 20 Juli 2021, diberlakukan PPKM Darurat. Yang kemudian diperpanjang sampai 25 Juli 2021, dengan istilah PPKM Level 3 dan 4, dan diperpanjang lagi sampai 2 Agustus 2021,” kata Trimedya.

 

Hasilnya kasus harian Covid-19 cenderung turun. Positivity rate, yaitu perbandingan antara jumlah kasus positif Covid-19 dengan jumlah orang yang dites, dalam seminggu terakhir ini juga turun.

Tingkat keterisian tempat tidur atau BOR (bed occupancy rate) bagi pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit selama seminggu terakhir, juga mengalami penurunan.

Dari total 430 ribu kapasitas tempat tidur rumah sakit di seluruh Indonesia, sebanyak 82 ribu tempat tidur diisi oleh pasien Covid-19.

Angka ini menurun dari minggu lalu, yang tercatat dengan angka 92 ribu tempat tidur.

Agar situasi lekas membaik, Trimedya menyarankan pemerintah, untuk terus menggenjot pelaksanaan program vaksinasi nasional.

Per tanggal 27 Juli 2021, total orang yang sudah mendapat vaksinasi dosis pertama berjumlah 45.534.183 orang. Sedangkan yang sudah divaksin lengkap (vaksinasi ke-2) baru 18.857.251 orang.

Masih sangat jauh dari target sasaran vaksinasi 208.265.720 orang.

“Baru tercapai 21,86 persen untuk vaksinasi dosis pertama. Kalau yang sudah vaksinasi lengkap, persentasenya lebih rendah lagi, baru 9,05 persen,” cetus Trimedya.

Jumlah vaksinasi harian pada tanggal 26 Juli 2021 terdata 258.346 orang untuk vaksinasi ke-1 dan 223.374 orang untuk vaksinasi ke-2, kemudian tanggal 27 Juli 2021 terdata 550.229 orang untuk yang vaksinasi ke-1 dan 536.465 orang untuk vaksinasi kedua.

“Masih jauh dari target Presiden Jokowi, yang mencanangkan vaksinasi 1 juta per hari,” imbuhnya.

 

Trimedya menyadari adanya kendala dalam program vaksinasi. Karena Indonesia bukan negara yang memproduksi vaksin sendiri, seperti China, Amerika Serikat, Inggris dan Rusia.

Sehingga, pelaksanaan program vaksinasi terlambat. Karena untuk mendapatkan vaksin tersebut, kita harus berebutan dengan negara lain.

Selain itu, juga ada kendala kekurangan jumlah tenaga kesehatan, baik itu dokter atau perawat.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut, Indonesia kekurangan sekitar 3.000 orang dokter untuk menghadapi lonjakan kasus Covid19. Serta membutuhkan sekitar 16 ribu hingga 20 ribu orang perawat.

Saat ini, pemerintah sedang mencari cara untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan tersebut.

“Kita mendorong pemerintah, untuk terus menggenjot pelaksanaan vaksinasi ini. Sehingga, bisa tercapai target 1 juta pemberian vaksi per hari,” ujar Trimedya.

Di tengah kesulitan akibat pandemi ini, Trimedya menyampaikan satu hal yang patut disyukuri. Secara nasional, kondisi perekonomian masih kuat, walau pertumbuhannya melambat.

Kurs Dollar AS selama sepekan ini, misalnya, stabil di kisaran angka Rp 14.500.

Di sisi ekonomi, pemerintah telah mengambil berbagai kebijakan extraordinary (luar biasa) untuk mengatasi dampak sosial ekonomi akibat pandemi Covid-19. Antara lain, melalui realokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang diarahkan sepenuhnya untuk keperluan tersebut.

“Termasuk, memberikan bantuan bagi masyarakat terdampak pandemi,” kata Trimedya.

 

Trimedya juga menyampaikan pandangannya soal kesadaran masyarakat, dalam mematuhi protokol kesehatan (prokes) untuk pencegahan Covid-19. Ada yang patuh,ada yang kurang patuh.

Kesadaran masyarakat untuk mengikuti program vaksinasi Covid-19 juga beragam.

Karena itu, menurutnya, kita harus bahu-membahu. Bersama-sama, membantu, dan mendukung pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19.

“Kita bisa memulai dari lingkungan paling kecil, yaitu keluarga kita sendiri, dengan mengikuti vaksin Covid-19. Dan tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan (prokes)  dalam pencegahan Covid-19,” papar Trimedya.

“Selanjutnya, kita bisa mengajak dan mengingatkan saudara kita, sahabat, teman, handai taulan, kenalan, dan lingkungan yang lebih luas lagi. Sesuai jaringan pertemanan dan pergaulan kita, untuk menggalakkan vaksin Covid-19 dan tetap disiplin prokes. Dengan upaya bersama-sama ini, mudah-mudahan pandemi Covid-19 bisa segera teratasi,” pungkasnya. [HES]

]]> .
Anggota DPR Fraksi PDIP, Trimedya Panjaitan menyoroti fluktuasi atau naik turunnya kasus harian Covid-19, selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat hingga level 1-4 sejak 3 Juli 2021.

Menurutnya, penurunan kasus biasanya diikuti penurunan jumlah orang maupun jumlah spesimen yang dites Covid-19, baik dengan swab PCR, TCM, maupun antigen yang biasanya bertepatan pada hari Sabtu, Minggu dan hari libur nasional.

Jumlah pasien yang sembuh meningkat, namun kasus kematian juga terus meningkat.

Pada hari pertama pemberlakuan PPKM Darurat, tanggal 3 Juli 2021, tercatat kasus harian 27.913 orang. Selanjutnya, terjadi peningkatan penambahan kasus harian hingga puncaknya pada 15 Juli 2021, yang mencapai 56.757 kasus.

Setelah itu, kasus turun sampai angka 28.228 orang pada 26 Juli 2021. Namun, sehari kemudian  tepatnya pada 27 Juli 2021, angkanya naik lagi menjadi 45.203.

Pada hari yang sama, ada berita baik. Penambahan jumlah kasus sembuh, mencapai angka tertinggi selama pandemi, dengan angka 47.128.

Namun, kasus kematian juga mencapai angka tertinggi selama pandemi, sebanyak 2.069 orang.

Dalam situasi ini, Trimedya mengatakan, pemerintah sudah bekerja keras dalam menangani pandemi Covid-19, sejak pertama kali terdeteksi pada 2 Maret 2020.

Dengan penetapan bencana non-alam virus Corona (Covid-19) melalui Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020.

Setelah itu, diambil berbagai kebijakan dalam menangani pandemi ini. Yaitu melalui penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), kemudian Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

“Karena pandemi belum bisa dikendalikan dan ada tren meningkat, mulai 3 Juli 2021 sampai dengan 20 Juli 2021, diberlakukan PPKM Darurat. Yang kemudian diperpanjang sampai 25 Juli 2021, dengan istilah PPKM Level 3 dan 4, dan diperpanjang lagi sampai 2 Agustus 2021,” kata Trimedya.

 

Hasilnya kasus harian Covid-19 cenderung turun. Positivity rate, yaitu perbandingan antara jumlah kasus positif Covid-19 dengan jumlah orang yang dites, dalam seminggu terakhir ini juga turun.

Tingkat keterisian tempat tidur atau BOR (bed occupancy rate) bagi pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit selama seminggu terakhir, juga mengalami penurunan.

Dari total 430 ribu kapasitas tempat tidur rumah sakit di seluruh Indonesia, sebanyak 82 ribu tempat tidur diisi oleh pasien Covid-19.

Angka ini menurun dari minggu lalu, yang tercatat dengan angka 92 ribu tempat tidur.

Agar situasi lekas membaik, Trimedya menyarankan pemerintah, untuk terus menggenjot pelaksanaan program vaksinasi nasional.

Per tanggal 27 Juli 2021, total orang yang sudah mendapat vaksinasi dosis pertama berjumlah 45.534.183 orang. Sedangkan yang sudah divaksin lengkap (vaksinasi ke-2) baru 18.857.251 orang.

Masih sangat jauh dari target sasaran vaksinasi 208.265.720 orang.

“Baru tercapai 21,86 persen untuk vaksinasi dosis pertama. Kalau yang sudah vaksinasi lengkap, persentasenya lebih rendah lagi, baru 9,05 persen,” cetus Trimedya.

Jumlah vaksinasi harian pada tanggal 26 Juli 2021 terdata 258.346 orang untuk vaksinasi ke-1 dan 223.374 orang untuk vaksinasi ke-2, kemudian tanggal 27 Juli 2021 terdata 550.229 orang untuk yang vaksinasi ke-1 dan 536.465 orang untuk vaksinasi kedua.

“Masih jauh dari target Presiden Jokowi, yang mencanangkan vaksinasi 1 juta per hari,” imbuhnya.

 

Trimedya menyadari adanya kendala dalam program vaksinasi. Karena Indonesia bukan negara yang memproduksi vaksin sendiri, seperti China, Amerika Serikat, Inggris dan Rusia.

Sehingga, pelaksanaan program vaksinasi terlambat. Karena untuk mendapatkan vaksin tersebut, kita harus berebutan dengan negara lain.

Selain itu, juga ada kendala kekurangan jumlah tenaga kesehatan, baik itu dokter atau perawat.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut, Indonesia kekurangan sekitar 3.000 orang dokter untuk menghadapi lonjakan kasus Covid19. Serta membutuhkan sekitar 16 ribu hingga 20 ribu orang perawat.

Saat ini, pemerintah sedang mencari cara untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan tersebut.

“Kita mendorong pemerintah, untuk terus menggenjot pelaksanaan vaksinasi ini. Sehingga, bisa tercapai target 1 juta pemberian vaksi per hari,” ujar Trimedya.

Di tengah kesulitan akibat pandemi ini, Trimedya menyampaikan satu hal yang patut disyukuri. Secara nasional, kondisi perekonomian masih kuat, walau pertumbuhannya melambat.

Kurs Dollar AS selama sepekan ini, misalnya, stabil di kisaran angka Rp 14.500.

Di sisi ekonomi, pemerintah telah mengambil berbagai kebijakan extraordinary (luar biasa) untuk mengatasi dampak sosial ekonomi akibat pandemi Covid-19. Antara lain, melalui realokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang diarahkan sepenuhnya untuk keperluan tersebut.

“Termasuk, memberikan bantuan bagi masyarakat terdampak pandemi,” kata Trimedya.

 

Trimedya juga menyampaikan pandangannya soal kesadaran masyarakat, dalam mematuhi protokol kesehatan (prokes) untuk pencegahan Covid-19. Ada yang patuh,ada yang kurang patuh.

Kesadaran masyarakat untuk mengikuti program vaksinasi Covid-19 juga beragam.

Karena itu, menurutnya, kita harus bahu-membahu. Bersama-sama, membantu, dan mendukung pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19.

“Kita bisa memulai dari lingkungan paling kecil, yaitu keluarga kita sendiri, dengan mengikuti vaksin Covid-19. Dan tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan (prokes)  dalam pencegahan Covid-19,” papar Trimedya.

“Selanjutnya, kita bisa mengajak dan mengingatkan saudara kita, sahabat, teman, handai taulan, kenalan, dan lingkungan yang lebih luas lagi. Sesuai jaringan pertemanan dan pergaulan kita, untuk menggalakkan vaksin Covid-19 dan tetap disiplin prokes. Dengan upaya bersama-sama ini, mudah-mudahan pandemi Covid-19 bisa segera teratasi,” pungkasnya. [HES]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *