Anggur Jadi Calon Ikon Baru Kota Tangsel

Siapa sangka Tangsel memiliki potensi luar biasa untuk pengembangan benih anggur. Kurang lebih lahan seluas 200 m2 yang berada di Balai Penyuluhan Pertanian, Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel), dipenuhi lebih dari 60 jenis varietas tanaman merambat ini. 

Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto bersama dengan Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengapresiasi upaya dan inisiasi Komunitas Anggur Tangsel untuk menghidupkan Kota Tangsel sebagai penghasil anggur. Terlebih di masa pandemi Covid-19 ini, urban farming menjadi solusi. 

“Anggur memiliki peluang bisnis yang luar biasa. Saya lihat di sini, anggur-anggur ini tidak kalah dengan anggur impor. Nah, kenapa tidak kita dorong? Nanti kami dukung dengan anggaran APBN yang cukup supaya kita bisa mengurangi impor anggur,” ujar Prihasto saat menghadiri milad ke-2 Komunitas Anggur Tangsel, Kamis (13/1).

Prihasto bangga dengan maraknya budidaya anggur yang diinisiasi dari komunitas anak-anak muda. Terlebih, lokasi budidayanya bisa dikunjungi untuk petik langsung sehingga ini peluang bisnis yang luar biasa.

Menurutnya, bukan mustahil anggur dari sini berpotensi ekspor. Tidak hanya produk segar saja, jika dimungkinkan produk olahan semisal wine. 

“Komoditas hortikultura Indonesia diakui oleh negara-negara Eropa dan sekitarnya. Terbukti pada ODICOFF akhir tahun lalu, produk pertanian Indonesia diminati dan terjadi transaksi dengan nilai yang cukup signifikan yakni Rp 7,26 triliun. Ini artinya Covid-19 menjadi peluang bagi kita,” jelas Prihasto.

Tangsel memang bukan lahan basah yang secara umum cocok untuk pertanian. Dengan demikian, anggur menjadi komoditas yang potensial untuk dikembangkan guna meningkatkan pendapatan masyarakat.

Prihasto berkomitmen untuk memfasilitasi kebutuhan di lahan, dengan catatan prosesnya harus clean and clear. 

Terkait proses bisnisnya, harus terus berjalan hingga skala luas. Dia juga berharap varietas yang ada di sini semua didaftarkan. 

“Jika untuk dikembangkan secara komersial harus didaftarkan terlebih dahulu. Kami akan dukung pengembangan benihnya, tidak hanya untuk Tangsel saja namun juga di tempat lain,” terang Prihasto. 

Selama ini, Tangsel dikenal sebagai Kota Anggrek, bunga yang dipilih menjadi ikon kotanya. Namun, melihat potensi anggur yang cukup baik, Benyamin Davnie ingin kotanya berkembang juga menjadi Kota Anggur. 

“Kami ingin Tangsel tidak hanya dikenal sebagai Kota Anggrek, juga Kota Anggur. Hal ini tidak hanya karena potensinya banyak tapi juga pasarnya bagus. Apalagi anggur tidak memerlukan wilayah luas, ini tanaman merambat yang tumbuh ke atas dan bisa dikembangkan pada skala rumah tangga. Ini yang mau terus saya kembangkan,” terang Benyamin.

Dirinya berjanji mengembangkan anggur dengan faktor utama pengembangan benih terlebih dahulu untuk selanjutkan disebarkan ke masyarakat. 

Dirinya juga ingin memperluas keanggotaan komunitas agar benihnya semakin banyak diproduksi. Setelah produksinya meluas, kemudian bisa disebarkan ke masyarakat.

Targetnya di akhir tahun ini. Kalau sudah demikian, barulah bisa terukur berapa kilogram nantinya yang dihasilkan. 

“Sekarang kami fokus ke pengembangan benihnya, baru ke produksi buahnya. Kira-kira di tahun berikutnya, kita mulai bisa melihat anggur-anggur Tangsel ada di pasar dan terbentuk ekonomi yang baik,” pungkasnya. [KAL]

]]> .
Siapa sangka Tangsel memiliki potensi luar biasa untuk pengembangan benih anggur. Kurang lebih lahan seluas 200 m2 yang berada di Balai Penyuluhan Pertanian, Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel), dipenuhi lebih dari 60 jenis varietas tanaman merambat ini. 

Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto bersama dengan Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengapresiasi upaya dan inisiasi Komunitas Anggur Tangsel untuk menghidupkan Kota Tangsel sebagai penghasil anggur. Terlebih di masa pandemi Covid-19 ini, urban farming menjadi solusi. 

“Anggur memiliki peluang bisnis yang luar biasa. Saya lihat di sini, anggur-anggur ini tidak kalah dengan anggur impor. Nah, kenapa tidak kita dorong? Nanti kami dukung dengan anggaran APBN yang cukup supaya kita bisa mengurangi impor anggur,” ujar Prihasto saat menghadiri milad ke-2 Komunitas Anggur Tangsel, Kamis (13/1).

Prihasto bangga dengan maraknya budidaya anggur yang diinisiasi dari komunitas anak-anak muda. Terlebih, lokasi budidayanya bisa dikunjungi untuk petik langsung sehingga ini peluang bisnis yang luar biasa.

Menurutnya, bukan mustahil anggur dari sini berpotensi ekspor. Tidak hanya produk segar saja, jika dimungkinkan produk olahan semisal wine. 

“Komoditas hortikultura Indonesia diakui oleh negara-negara Eropa dan sekitarnya. Terbukti pada ODICOFF akhir tahun lalu, produk pertanian Indonesia diminati dan terjadi transaksi dengan nilai yang cukup signifikan yakni Rp 7,26 triliun. Ini artinya Covid-19 menjadi peluang bagi kita,” jelas Prihasto.

Tangsel memang bukan lahan basah yang secara umum cocok untuk pertanian. Dengan demikian, anggur menjadi komoditas yang potensial untuk dikembangkan guna meningkatkan pendapatan masyarakat.

Prihasto berkomitmen untuk memfasilitasi kebutuhan di lahan, dengan catatan prosesnya harus clean and clear. 

Terkait proses bisnisnya, harus terus berjalan hingga skala luas. Dia juga berharap varietas yang ada di sini semua didaftarkan. 

“Jika untuk dikembangkan secara komersial harus didaftarkan terlebih dahulu. Kami akan dukung pengembangan benihnya, tidak hanya untuk Tangsel saja namun juga di tempat lain,” terang Prihasto. 

Selama ini, Tangsel dikenal sebagai Kota Anggrek, bunga yang dipilih menjadi ikon kotanya. Namun, melihat potensi anggur yang cukup baik, Benyamin Davnie ingin kotanya berkembang juga menjadi Kota Anggur. 

“Kami ingin Tangsel tidak hanya dikenal sebagai Kota Anggrek, juga Kota Anggur. Hal ini tidak hanya karena potensinya banyak tapi juga pasarnya bagus. Apalagi anggur tidak memerlukan wilayah luas, ini tanaman merambat yang tumbuh ke atas dan bisa dikembangkan pada skala rumah tangga. Ini yang mau terus saya kembangkan,” terang Benyamin.

Dirinya berjanji mengembangkan anggur dengan faktor utama pengembangan benih terlebih dahulu untuk selanjutkan disebarkan ke masyarakat. 

Dirinya juga ingin memperluas keanggotaan komunitas agar benihnya semakin banyak diproduksi. Setelah produksinya meluas, kemudian bisa disebarkan ke masyarakat.

Targetnya di akhir tahun ini. Kalau sudah demikian, barulah bisa terukur berapa kilogram nantinya yang dihasilkan. 

“Sekarang kami fokus ke pengembangan benihnya, baru ke produksi buahnya. Kira-kira di tahun berikutnya, kita mulai bisa melihat anggur-anggur Tangsel ada di pasar dan terbentuk ekonomi yang baik,” pungkasnya. [KAL]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *