5 Tips Belanja Aman Di Pasar Agar Tak Tertular Corona

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 dan Duta Perubahan Perilaku dr Reisa Broto Asmoro berbagi tips menyesuaikan diri dalam transaksi di masa Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) agar tidak terpapar Corona. Reisa mengatakan, di masa PPKM Level 4, pasar rakyat yang menjual kebutuhan pokok telah diperbolehkan buka dengan protokol kesehatan ketat dan pengaturan lebih lanjut dari pemerintah daerah.

“Ada lebih dari 16.000 lebih pasar di Indonesia. Kalau sampai kita tidak taat protokol kesehatan, maka tempat tersebut dapat menjadi pusat penyebaran virus,” kata Reisa, Jakarta, Rabu (28/7), seperti dikutip Antara.

Reisa menerangkan, ada lima provinsi yang memiliki pasar rakyat terbanyak. Yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat. Keempat provinsi ini menerapkan PPKM Level 4. Artinya, risiko penularan tingkat komunitas di lima provinsi itu masih terbilang tinggi.

Makanya, jika harus bertransaksi di pasar, Reisa meminta masyarakat mengingat lima hal. Pertama, memastikan kondisi kesehatan sedang baik, yaitu tidak dalam keadaan sakit bergejala demam, batuk, dan pilek.

Kedua, selalu menggunakan dua lapis masker saat menuju dan berada dalam pasar. Ketiga, sesering mungkin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer.

Keempat, menghindarkan diri untuk menyentuh area wajah, seperti mata, hidung, dan mulut selama berada dalam pasar. Jika diperlukan, menggunakan pelindung muka.

Kelima, menjaga jarak minimal satu meter dengan orang lain dan segera pulang setelah mendapatkan barang yang dicari di pasar. “Panduan pasar sehat dan pasar yang beradaptasi dengan kebiasaan baru sudah dibuat Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perdagangan sejak tahun lalu,” kata Reisa.

Sementara, untuk bertransaksi dengan pedagang kaki lima, toko kelontong, pangkas rambut, pencucian pakaian, atau usaha kecil lain yang sejenis, Reisa menyarankan memilih lokasi yang terbuka dan mempersingkat kunjungan. Selain itu, tidak boleh melepas masker.

Untuk menurunkan risiko tertular Covid-19 saat bertransaksi, sambung Reisa, Bank Indonesia telah menjelaskan beberapa langkah untuk mensterilkan dan menyortir uang fisik setelah transaksi dilakukan. “Pastikan sering-sering cuci tangan sebelum dan setelah memegang uang. Lalu tempatkan uang di dompet atau wadah tertutup yang bersih dan higienis,” katanya.

Selain itu, Reisa mengajak masyarakat mengutamakan transaksi non-tunai dengan uang elektronik, internet banking, maupun QRIS. “Sudah banyak kok pedagang pasar dan warung-warung yang menerima transaksi non-tunai. Yang paling penting adalah bahwa cara menghentikan pandemi ini ada di tangan kita. Keputusan kitalah yang akan mengakhiri penularan SARS-CoV-2 penyebab Covid-19,” ujar Reisa. [USU]

]]> .
Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 dan Duta Perubahan Perilaku dr Reisa Broto Asmoro berbagi tips menyesuaikan diri dalam transaksi di masa Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) agar tidak terpapar Corona. Reisa mengatakan, di masa PPKM Level 4, pasar rakyat yang menjual kebutuhan pokok telah diperbolehkan buka dengan protokol kesehatan ketat dan pengaturan lebih lanjut dari pemerintah daerah.

“Ada lebih dari 16.000 lebih pasar di Indonesia. Kalau sampai kita tidak taat protokol kesehatan, maka tempat tersebut dapat menjadi pusat penyebaran virus,” kata Reisa, Jakarta, Rabu (28/7), seperti dikutip Antara.

Reisa menerangkan, ada lima provinsi yang memiliki pasar rakyat terbanyak. Yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat. Keempat provinsi ini menerapkan PPKM Level 4. Artinya, risiko penularan tingkat komunitas di lima provinsi itu masih terbilang tinggi.

Makanya, jika harus bertransaksi di pasar, Reisa meminta masyarakat mengingat lima hal. Pertama, memastikan kondisi kesehatan sedang baik, yaitu tidak dalam keadaan sakit bergejala demam, batuk, dan pilek.

Kedua, selalu menggunakan dua lapis masker saat menuju dan berada dalam pasar. Ketiga, sesering mungkin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer.

Keempat, menghindarkan diri untuk menyentuh area wajah, seperti mata, hidung, dan mulut selama berada dalam pasar. Jika diperlukan, menggunakan pelindung muka.

Kelima, menjaga jarak minimal satu meter dengan orang lain dan segera pulang setelah mendapatkan barang yang dicari di pasar. “Panduan pasar sehat dan pasar yang beradaptasi dengan kebiasaan baru sudah dibuat Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perdagangan sejak tahun lalu,” kata Reisa.

Sementara, untuk bertransaksi dengan pedagang kaki lima, toko kelontong, pangkas rambut, pencucian pakaian, atau usaha kecil lain yang sejenis, Reisa menyarankan memilih lokasi yang terbuka dan mempersingkat kunjungan. Selain itu, tidak boleh melepas masker.

Untuk menurunkan risiko tertular Covid-19 saat bertransaksi, sambung Reisa, Bank Indonesia telah menjelaskan beberapa langkah untuk mensterilkan dan menyortir uang fisik setelah transaksi dilakukan. “Pastikan sering-sering cuci tangan sebelum dan setelah memegang uang. Lalu tempatkan uang di dompet atau wadah tertutup yang bersih dan higienis,” katanya.

Selain itu, Reisa mengajak masyarakat mengutamakan transaksi non-tunai dengan uang elektronik, internet banking, maupun QRIS. “Sudah banyak kok pedagang pasar dan warung-warung yang menerima transaksi non-tunai. Yang paling penting adalah bahwa cara menghentikan pandemi ini ada di tangan kita. Keputusan kitalah yang akan mengakhiri penularan SARS-CoV-2 penyebab Covid-19,” ujar Reisa. [USU]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *